Home / Berita Terkini / Haidar Bagir: “Kita Harus Bicara dan Didik Pelajar Kita Tentang Islam Wasathiyyah”

Haidar Bagir: “Kita Harus Bicara dan Didik Pelajar Kita Tentang Islam Wasathiyyah”

18700143_1880468798859140_6694266850375612425_n

Bandar Lampung: “Kita harus bicara dan didik pelajar-pelajar kita tentang Islam wasathiyyah (Islam moderat). Jangan sampai tidak mengerti pemikiran-pemikiran lainnya sehingga mengajarkan Islam yang sempit. ajaran Islam bukan jalan satu yang sempit tapi koridor yang menuju kepada Tuhan,” ujar Haidar Bagir saat menyampaikan materi bukunya dalam acara Bedah Buku Islam Tuhan Islam Manusia karya Haidar Bagir yang dilaksanakan oleh Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Intan Lampung, pada Senin (22/5/2017) di GSG fakultas setempat.

Ia juga menjelaskan seharusnya umat Muslim menganut Islam wasathiyah yang dikembangkan di Indonesia. Agar umat Islam damai dan memberikan kontribusi peradaban rahmatan lil alamin.

“Semua manusia atau ciptaan Allah adalah wadah dan tidak sama satu dengan yang lainnya yang disebut isti’dad, maka terdapat kalimat la tikrar fi tajalli. Karena itu, tidak boleh dengan mudah mengkafirkan orang lain. Kalau melihat pemikiran ulama, seperti Ibn Taimiyah di satu sisi sangat hati-hati dengan kata-kata kafir. Tidak boleh menyatakan orang kafir kecuali telah terjadi qiyamul hujjah. Memang Ibn Taimiyah mempunyai takfir mutlak (tidak spesifik) dan  takfir mu’ayyan seperti pemahaman Fakhruddin al-Razi, yang dianggap sesat. Hal ini terdapat dalam kitab Majmu Fatawa,” jelas Haidar Bagir dihadapan lebih dari tiga ratus peserta diskusi.

Karenanya Haidar Bagir menyatakan bahwa Islam (dalam tafsir) manusia ada kemungkinan semua tafsir Islam kebenarannya relatif dan semua tafsir punya kemungkinan benar karena itu, menurutnya, saling belajarlah.

“Hal ini seperti kalimat hadis alfaqru fakhri (kemiskinan adalah kebanggaanku). Dalam penafsiran hadis tersebut berbeda-beda. Bisa fakir berarti miskin, bisa juga ditafsirkan bahwa apa yang dimiliki manusia pada hakikatnya milik Allah (merasa tidak mempunyai apa-apa di hadapan Allah), yang tujuannya agar manusia tidak berlaku sombong. Dengan begitu, pemahamannya, bahwa zuhud bukan miskin, tapi kamu menguasai hartamu bukan kamu dikuasai hartamu. Misalnya ketika mobil tergores jangan goreskan sampai ke hati. Biarkan hartamu berhenti di tanganmu jangan ke hatimu begitu menurut al-Ghazali”, jelas Haidar Bagir. (Abdul Qodir Zaelani)

About admin

Check Also

WhatsApp Image 2020-11-25 at 07.16.34

Yudisium FS ke-3 Berjalan Sukses, Dekan “Jadilah Mahasiswa Berilmu dan Berakhlak Mulia”

Mata Pena: Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung sukses menyelenggarakan Yudisium periode ke-3 yang dilakukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *